Laman

Arsip Blog

Jumat, 24 Februari 2012

ANDAI AKU TAHU SEJAK LAMA

BY : DWI RAHAYU       


       Siang yang begitu garang, Ibu Sutija yang bekerja berjualan gorengan berkeliling di sekitar sekolahan terdekat dari rumahnya. Sang suami yang telah lama meninggal akibat kecelakaan, memaksa Ibu Sujita harus banting tulang menghidupi Haris yang masih berumur 3 tahun. Saat Bu Sutija menuju perjalanan pulang seusai berjualan , Haris inigin dibelikian es cendol yang ada di perempatan jalan raya itu sambil menunjuk ke jalan dan berkata “Ibu…Ibu…Alris mau minum es, Aris haus Bu.” Sang ibu yang tak tega melihat sang anak kehausan lantas mau tak mau, walau uang hanya pas-pasan Ibu Sutija ingin membelikannya. Namun…… tak lama ia beranjak dari tempat ia mulai berjalan, Bu Sutija terserempet mobil yang bermuatan kayu jati. Sang anak yang tertimpa salah satu kayu tersebut membuat Haris menjadi buta.
            Selama satu tahun Ibu Sutija mengumpulkan uang demi mengoperasikan mata sang anak. Kini alhamdulillah uangnya sudah terkumpul, namun.....dokter berkata ”Bu...satu-satunya jalan agar Haris dapat melihat kembali, pendonornya haruslah dari pihak keluarga dan bergolongan darah yang sama”. Bu Sutija yang bergolongan darah yang sama dengan Haris lantas tak berfikir panjang, yang ia harapkan hanyalah sang anak harus dapat melihat walau ia harus merelakan satu matanya berpindah ke sang anak. Proses operasi di mulai dan alhamdulillh berjalan lancar.
            Enam tahun sudah berlalu, kini Haris tumbuh menjadi anak yang pintar, ia duduk dibangku sekolah dasar kelas 4. Sang Ibu yang buta hanya dapat menunggunya didepan sekolah sambil berjualan gorengan. Sang anak yang selalu diolok-oloki oleh sang teman karena memiliki Ibu yang buta, lantas membuat Haris marah dan tak ingin menegur sang Ibu, ia malu selain sang Ibu buta, ia juga malu melihat sang Ibu berjualan didepan gerbang sekolahnya. Dan saat dalam perjalanan pulang Haris selalu berkata kepada sang Ibu ”Bu...Haris malu, benar-benar malu punya Ibu yang buta, Haris capek selalu diolok-oloki.” Lalu sang ibu menjawab ”Baiklah nak...Ibu akan berjualan di perempatan jalan raya saja, agar engkau tak lagi merasa malu.” lalu sang anak menyaut ”Wah..bagus itu, akhirnya tahu diri”.
            Tujuh belas tahun sudah berlalu, kini Haris berumur 26 tahun, ia bekerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta. Sudah lama ia tak mengunjungi kediaman sang Ibu, bukan karena ia merasa sibuk namun karena ia malas bertemu Ibu yang tak bisa melihat kesuksesan sang anak dengan mata yang sempurna. Padahal disisi lain sang Ibu yang sedang terbujur kaku di tempat tidurnya hanya bisa meratapi nasibnya yang mungkin hanya menunggu hari, karena penyakit ginjal dan jantung. Dokter telah memfonis Bu Sutija kemungkinan ia dapat bertahan hanya beberapa hari. Bu Sutija yang telah merasa bahwa ajalnya telah dekat, lantas ia membuat sebuah surat untuk sang anak yang dititipkan kepada salah satu tetangga dekatnya yang saat itu berada di samping kasurnya ”Bu....Las..mii..to..to..long..su..rat...in..i..berikan..ke...Haris..ka..lau, sewaktu...waktu ia...datang ke sini” sambil terbata-bata ia mengucapkan dengan lirih. Setelah surat itu dititipkan, selang beberapa menit Bu Sutija menghembusakan nafasnya yang terakhir.
            Seminggu  setelah kepergian Bu Sutija, Haris pulang menuju rumah sang Ibu, di ketuk-ketuk pintu rumah tersebut namun tak ada suara sama sekali dari balik pintu, terasa sunyi dan sepi. Tak berapa lama kemudian Bu Lasmi salah seorang tetangganya memberikn selembar surat kedapa Haris. ”Ris ini ada surat dari Ibu mu, ia memberikannya sebelum ia meninggal”. Apa?? Ibu meninggal?? ”Itu tak mungkin” jawab Haris. ”Sudah..bukalah dulu surat itu” kata Bu Lasmi.

Di dalam surat itu tertulis :

Assalamu’alaikum.....
Anakku..Haris...
Saat engkau buka surat ini, mungkin Ibu tak berada lagi di sisi mu,
menemanimu saat engkau tidur seperti dulu ..
Mendongengkanmu sebuah cerita saat kau dalam belaian Ibu..
Kini engkau telah tumbuh menjadi sosok anak yang hebat,,,
Mungkin engkau tak lagi membutuhkan Ibu..

Nak...
Dulu saat engkau berusia 3tahun, terjadi sebuah kecelakaan yang membuat matamu buta,,
Ibu tak sanggup melihatmu tumbuh hanya dengan sau mata, latas ibu menganjurkna untuk memindahkan mat Ibu kepada mu..
Kini engkau telah dewasa, telah semestinya engkau tahu tentang ini semua....
Ibu minta maaf kalau selama ini sering membuatmu malu memiliki Ibu yang buta sepertiku....

Selamat tinggal....

Dari Ibu yang senantiasa menyayangimu....
Sutija.

            Penyasalan mulai dirasakan Haris. Ia merasa bersalah telah memperlakukan sang Ibu dengan sangat kejam. Namun semua itu tiadalah arti, sang Ibu telah pergi untuk selama nya...


*******************************TAMAT*******************************