Laman

Arsip Blog

Rabu, 04 Januari 2012

"Do’aku Untuk Ayah"

Kicauan burung nan merdu,
Kumandang azan pun bergema
Setiap insan yang terlelap dalam tidur pun terbangun

Kubentangkan sajadah….
Kualunkan zikir-zikir dan asmamu…Rabb
Hanya mengharap ridho-Mu

Tuhan…
Walau tangan ini tak mampu membersihkan nisannya di sana
Namun izinkan ku angkat tangan ini untuk memohon kepada-Mu
Walau tangan ini tak mampu menaburkan bunga di atas makamnya
Namun izikan ku mengirimkan sebait ayat dan do’a untuk ayah terkasihku

Tuhan…
Berikanlah jalan keridhoan-Mu
Trimalah ia dalam derap kasih sayang-Mu


                                                               Karya : Dwi Rahayu

Usaha Di Balik Sampah

Sinar mentari dengan sigap membangunkan insan-insan yang terlelap dalam tidurnya. Seperti halnya Ilham, Yudi, Ardi dan Kevin, mereka anak jalanan dengan sejuta kekreativan. Selain memiliki bakat bernyanyi, walupun itu di lakukan di jalan raya yang ramai merekapun dituntut untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang sebatang kara. Bila mengharap hasil mengamen tentu tak cukup. Sampai suatu ketika Ardi menemukan bungkus-bungkus detergen yang terbuang di dalam kotak sampah. “Hei…Yudi, Kevin, Ilham lihat deh bungkus detergen ini sangat banyak, gimana kalau kita jadiin uang?”, kata Ardi. “Jadiin uang gimana maksud kamu di?”, tanya Yudi, “Kita bikin tas dari bahan ini”, jawab Ardi. “Wah..ide bagus tuh” kata Yudi, Kevin dan Ilham dengan kompak. “Ok..kita mulai sekarang”, jawab Ardi.
            Langkah pertama pembuatan tas karya mereka pun dimulai. ‘’Mari kita lakukan proses pencucian bungkus detergen dengan menggunakan air bersih’’, kata Ardi, “Baik sob” jawab Yudi. “Setelah ini apa yang harus kita lakukan?” tanya Ilham. “Bungkus detergen yang telah bersih, lalu kita gunting dengan ukuran 30x30cm, dan kemudian kita jahit dengan menggunakan benang wol” , jawab Ardi.
            Sampai pada akhirnya terbuatlah lima buah tas dari bungkus detergen tersebut. Dengan tangan kreativnya, merekapun berinisiatif untuk menjualnya dipinggir trotoar. Usaha mereka pun berbuah manis, dengan kesungguhannya tas karya merekapun terjual habis.
            Lalu dengan hasil kerja keras mereka, Yudi, Kevin, Ilham dan Ardi membuka tempat usaha untuk berjualan tas buah tangan mereka. Dan pada akhirnya mereka menjadi pengusaha sukses dengan penghasilan yang cukup memusaskan. Merekapun menyalurkan idenya kepada anak-anak jalanan untuk berpartisipasi dalam pembuatan tas, agar terciptanyalapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.

*************************************TAMAT***************************************
Karya : Dwi Rahayu

Sebuah Penyesalan

Pagi pun tiba, kicauan burung siap membangunkan setiap insan yang terlelap dalam tidurnya. Semua orang sibuk dengan aktivitas mereka. Seperti halnya Nissa, ia harus segera menjual koran di perempatan jalan raya. Nissa yang baru berumur 8 tahun harus menafkahi 3 adiknya, di karenakan sang ayah yang telah meninggal.
          “Syukurlah hari ini koran terjual banyak” sambil tersenyum Nissa melihat uang yang ada disakunya. “Assalamu’alaikum Bu, Nissa pulang” salam yang Nissa sampaikan tak digubris oleh sang ibu. “Bu..hari ini koran Nissa terjual banyak” kata Nissa, “Ah..gak perduli yang penting kamu pulang bawa uang” kata sang Ibu. Merintih hati kecil Nissa mendengar perkataan sang Ibu.
          Selang beberapa hari, Nissa melihat anak-anak sebayanya bersekolah, melewati rumah Nissa. Lalu Nissa lekas menghampiri sang Ibu yang berada di dapur, dan berkata “Bu…bolehkah Nissa bersekolah? Seperti teman-teman Nissa, Nissa berkeinginan untuk meraih cita-cita Nissa, Nissa mau jadi orang sukses yang bisa kasih uang banyak ke Ibu”. Lalu sang Ibu menjawab “Hei…Nissa, buat makan aja susah, pake belagak mau jadi orang sukses lagi, udah gak usah berkeinginan yang aneh-aneh, kita ini orang gak punya, kamu jangan banyak tingkah jadi orang miskin.” Mendengar perkataan sang Ibu, hati kecil Nissa merintih, ia lekas meninggalkan dapur dan menangis di balik pintu kamar.
          Beberapa hari kemudian, Nissa tak berjualan koran, Nissa sakit dan Ibunya tak merawat dan memperdulikannya. Selang beberapa jam sang Ibu menghampirinya dan berkata “aduh..pake sakit-sakitan lagi kamu”. Lalu Nissa menjawab “Bu..andai Nissa tak lagi ada di sisih Ibu, maafin Nissa ya Bu, Nissa sering buat Ibu kesal dan marah, beberapa hati ini Nissa sering sesak nafas Bu…”. Lalu sang Ibu menjawab, “Itu derita kamu, Ibu gak perduli ynag penting sore nanti kamu harus cari uang”. I..bu..ku sa…yang, Nissa In..gin..se…ko..lah..Bu..”, setelah kata itu terucap, Nissa tak lagi sadarkan diri. Sang Ibu yang keheranan, lantas memegang dada sang anak, namun jantung Nissa tak lagi berdetak. Sang Ibu menangis sambil berteriak “Nissa..Nissa..bangun nak”, namun itu sia-sia belaka, Nissa telah tiada. Nissa meninggal dengan satu keinginan yang tak tercapai. Sang Ibu sangat sedih, terucap dalam hatinya “Sebuah Penyesalan” yang tak dapat terhapuskan.

********************************TAMAT********************************
Karya : Dwi Rahayu J

Shelly Si Pintar Yang Malang

Pagi pun tiba, saatnya Shelly bangun dan sholat isyak berjamaah dengan ayah, ibu dan adiknya yang bernama Ilham. Setelah selesai ia membatu ibunya memasak sarapan pagi setelah itu ia mandi dan mempersiapkan keperluan sekolahnya. Pagi ini Shelly akan berangkat kesekolah bersama sahabatnya nya, yaitu Desi, Tiara dan Anggi. Mereka sudah cukup lama kenal sejak duduk dibangku Madrasah Ibtidahiyah. Alamdulillah Shelly dan sahabatnya dapat melanjutkan sekolah ke tingkat MTs.
                Bel sekolahpun berbunyi “tet………” Shelly dan para sahabatnya mendegar suara bel tersebut lalu mereka berlari-lari….. menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi mau di tutup. “huuf…..untung aja pak satpam nya baik…” kata Shelly. Lalu Anggi menyaut….”tuh,,,satpam bukannya baik, tapi….dia kasian liat kita Lari-lari mangkanya ngak ampe ditutup tuh gerbang”. Desi pun serentak nyerocos “udah….deh…bentar Lagi Ibu Aisyah mau masuk kelas….yuk…cepet..!!”
                Sesampainya di kelas mereka buru-buru ambil posisi duduk di bangku, dan tak lama kemudian ibu Aisyah datang. “Asslamu’alaikum” ibu Aisyah, “Wa’alaikum salam” semua siswa pun menjawab salam. “Hari ini kita ulangan, jangan ada lagi buku di atas meja dan hanya ada pencil dan kertas” ibu Aisyah. Desi, Tiara dan Anggi yang sama sekali ngak belajar mereka jadi kepusingan melihat soal-soal di papan tulis, sedangkan Shelly dengan sigapnya dan penuh konsentrasi mengerjakan soal-soal tersebut. Dan dalam waktu 20 menit Shelly telah menyelesaikannya dan mengumpulkannya pada ibu guru.
                Bel istirahat pun berbunyi “tet…………”, “huuf….akhirnya istirahat juga” kata Tiara. “Yuk,,,pada kekantin,,,” ajakan Desi. Setibanya di kantin Desi, Tiara dan Anggi baru menyadari kalau Shelly tidak berada dikantin ikut bersama mereka. Akhirnya mereka pun bergegas mencari Shelly.  “kemana sieh…tuh anak, ngak biasa nya kayak gini” kata Tiara. “iya,,,ya….”sahut Desi. “apa mungkin dia lagi ada masalah” kata Anggi. “kalau emang iya, kenapa dia ngak bilang ma kita, kita kan sahabatnya” jawab Tiara. Setelah lama mencari….dan akhirnya bel tanda masuk kelas pun berbunyi “tet………”. Mereka pun bergegas menuju kelas. Tapi….. sesampainya dikelas, mereka tidak melihat keberadaan Shelly dan……..tas nyapun tak ada. “duh…..emang nya Shelly kenapa sieh….kok gak kayak biasa nya pergi tanpa izin ma kita” kata Tiara. “Iya,,,ya….entar kita coba datangi rumahnya aja, gimana?” Tanya Anggi, “eemmm….ok..ok…”jawab Tiara dan Desi.
                Setibanya di rumah Shelly, mereka langsung mengetuk pintu rumah dan megucapkan salam “Assalamu’alaikum Shelly”. Namun sama sekali tak ada jawaban dari dalam rumah. Para sahabatnya terus mengetuk dan mengucapkan salam, namun…sepertinya sia-sia, “mungkin ngak da orang di dalam, kalo gitu kita pulang aja deh , entar sore kita kesini lagi, gimana??” Tanya Anggi, “yaa,,,,udah deh,,,, entar sore aja” jawab Desi dan Tiara. Mereka pun beranjak pulang.
                Sore pun tiba, saat nya para sahabat nya menuju rumah Shelly. “tok…tok…tok…..Assalamu’alaikum…tante, om” salam Desi. “Wa’alaikum salam” sahut ibunya Shelly. “oh,,,Desi…mau bertemu sam Shelly ya??” Tanya ibu Shelly, “iya tante….tadi kami bertiga datang kesini sepulang sekolah tapi….kayaknya tadi ngak ada orang mangkanya kami datang kesini lagi” jawab Desi. “tapi,,,,tadi ibu kira Shelly lagi kerja kelompok ama kalian, Shelly nya ngak ada dirumah dan belum pulang sampai sekarang, tadi pagi saat kalian datang kerumah, ibu lagi mencuci di rumah majikan dan om lagi ngojek, sedangkan Ilham ada di rumah kakeknya”, “duh,,,,gimana yaah,,,tante jadi binggung ni” ibu Shelly. “kalau begitu akan kami coba cari di sekitar kampung mungkin ada, yang sabar ya tante” sahut Desi. “iya,,,entar kalau dah ketemu sama Shelly, tolong bawa pulang ya nak!!” kata Ibu Shelly. “iya…tante, permisi : “Wassalamu’alaikum” mereka mengucapkan salam. “Wa’alaikum salam” jawab salam ibu Shelly. “Semoga tidak akan ada yang terjadi terhadap putri hamba yaa….Allah, lindunggilah dia dari segala macam marabahaya” do’a sang ibu kepada putri yang dicintainya.
                Malampun tiba namun kedatangan yang diharapkan ibunya pun tak kunjung datang, ibu nya mulai was-was dan ayahnya pun selalu berdo’a agar tidak ada yang terjadi kepada putrinya. Sampai tenggah malampun belum ad kabar dari para sahabatnya Shelly.  Untuk menghilangkan rasa was-was nyapun ibunya melanksanakan sholat tahajud dan ia berdo’a “yaa…Allah…berikanlah…perlindungan pada putri hamba di mana pun ia berada sekarang dan pulangkanlah ia yaa..Allah karena saya sangat menghawatirkanya….hanya kepadmu lah aku memohon perlindungan, robbanaatina fitdunyahasanah wafilahirotihassantau wakinah azzabannar”. Setelah melakukan sholat tahajud hati ibu Shelly sedikit bisa tenag.
                Pagi harinya, ibunya menunggu di depan rumah dan berharap kedatangan sosok putrinya yang amat ia sayangi. Dan tak lama kemudian sosok yang diharapkan nya pun hadir. Ibunya langsung lari dan memeluk putrinya. Namun dengan wajah yang sangat pucat Shelly pun berkata “Ibu…maaf kan Shelly ya??”, “iya,,,,jangan diulangi lagi perbuatan ini, ibu sangat hawatir” jawab ibunya. Ibu nya langsung membawa Shelly kedalam rumah dan menyuguhkan teh hangat untuk putrinya. “Ibu..sebenarnya ada yang inggin Shelly katakan” kata Shelly, “katakanlah nak..”jawab ibu. “Bu…bila suatu saat Shelly meninggalkan Ayah,Adik dan Ibu.. jangan bersedih yaa !! karena bila ibu bersedih aku pu pasti ikut menangis di alam sana” kata Shelly, “aduh…nak,,,kamu ini bilang apa sih,,,,jangan gitu…kamu masih hidup kan mengejar cita-citamu” kata sang Ibu. “Ibu sebenarnya sudah lama Shelly ingin mengatakan kabar ini kepada Ibu dan Ayah, tapi….rasanya tidak sanggup untuk menggucapkan” kata Shelly, “apa itu nak…?? Katakanlah jangan membuat ibu tambah hawatir” kata Ibunya. “Ibu…. Sudah berjalan 6 bulan kini tibalah detik-detik terakhir Shelly. Waktu itu Shelly pergi ke Rumah Sakit dan menanyakan penyakit jantung yang dialami Shelly, dan dokter mengatakan penyakit ini sudah begitu parah dan tidak bisa lagi di sembuhkan walaupun dengan cara operasi sekali pun, dan dokter pun mendiagnosa bahwa waktu Shelly hanya bisa bertahan 6 bulan.” Dengan meneteskan air mata Shelly menceritakannya kepada Ibunya. “Astaqfiruallah….semua mati dan hidup itu di tanggan Allah dan bukan manusialah yang dapat memastikan kematiaan seseorang” balas sang ibu. Tak lama kemudaian Shelly mengalami sesak nafas dan perlahan-lahan ia menggambil nafas namun tak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhir. Ibunya pun berderai air mata dan menutup mata sang putri dengan rasa hati yang sangat teriris karena ia ditinggalkan oleh putri kesayangan nya untuk selamanya. Shelly meninggal tepat pada pukul 10.00 hari jum’at dan dikebumikan di samping makam almarhum Kakaknya.


       ********************************** TAMAT *******************************
Karya : Dwi Rahayu