Pagi pun tiba, kicauan burung siap membangunkan setiap insan yang terlelap dalam tidurnya. Semua orang sibuk dengan aktivitas mereka. Seperti halnya Nissa, ia harus segera menjual koran di perempatan jalan raya. Nissa yang baru berumur 8 tahun harus menafkahi 3 adiknya, di karenakan sang ayah yang telah meninggal.
“Syukurlah hari ini koran terjual banyak” sambil tersenyum Nissa melihat uang yang ada disakunya. “Assalamu’alaikum Bu, Nissa pulang” salam yang Nissa sampaikan tak digubris oleh sang ibu. “Bu..hari ini koran Nissa terjual banyak” kata Nissa, “Ah..gak perduli yang penting kamu pulang bawa uang” kata sang Ibu. Merintih hati kecil Nissa mendengar perkataan sang Ibu.
Selang beberapa hari, Nissa melihat anak-anak sebayanya bersekolah, melewati rumah Nissa. Lalu Nissa lekas menghampiri sang Ibu yang berada di dapur, dan berkata “Bu…bolehkah Nissa bersekolah? Seperti teman-teman Nissa, Nissa berkeinginan untuk meraih cita-cita Nissa, Nissa mau jadi orang sukses yang bisa kasih uang banyak ke Ibu”. Lalu sang Ibu menjawab “Hei…Nissa, buat makan aja susah, pake belagak mau jadi orang sukses lagi, udah gak usah berkeinginan yang aneh-aneh, kita ini orang gak punya, kamu jangan banyak tingkah jadi orang miskin.” Mendengar perkataan sang Ibu, hati kecil Nissa merintih, ia lekas meninggalkan dapur dan menangis di balik pintu kamar.
Beberapa hari kemudian, Nissa tak berjualan koran, Nissa sakit dan Ibunya tak merawat dan memperdulikannya. Selang beberapa jam sang Ibu menghampirinya dan berkata “aduh..pake sakit-sakitan lagi kamu”. Lalu Nissa menjawab “Bu..andai Nissa tak lagi ada di sisih Ibu, maafin Nissa ya Bu, Nissa sering buat Ibu kesal dan marah, beberapa hati ini Nissa sering sesak nafas Bu…”. Lalu sang Ibu menjawab, “Itu derita kamu, Ibu gak perduli ynag penting sore nanti kamu harus cari uang”. I..bu..ku sa…yang, Nissa In..gin..se…ko..lah..Bu..”, setelah kata itu terucap, Nissa tak lagi sadarkan diri. Sang Ibu yang keheranan, lantas memegang dada sang anak, namun jantung Nissa tak lagi berdetak. Sang Ibu menangis sambil berteriak “Nissa..Nissa..bangun nak”, namun itu sia-sia belaka, Nissa telah tiada. Nissa meninggal dengan satu keinginan yang tak tercapai. Sang Ibu sangat sedih, terucap dalam hatinya “Sebuah Penyesalan” yang tak dapat terhapuskan.
********************************TAMAT********************************
Karya : Dwi Rahayu J